gravatar

Chapter 1 - Intro


Pagi hari yang cerah,  saya buka jendela kamar, tampak sisa hujan salju tadi malam.

Tepat di depan jendela kamar terhampar telaga luas nan tenang, 2 lumba-lumba berlompatan menyambut pagi, yang satu bernama Poleng, satunya lagi temannya Poleng. Mereka lumba-lumba air tawar, yang saya beli di toko Ikan Hias dari jalan Karapitan, Bandung - Indonesia. Dibeli saat mereka masih bayi, saya kira impun.

Sedang di tepian telaga bagian utara, terlihat pelangi melengkung anggun. Ada 7 orang bidadari sedang mandi disana. Apa di surga kurang air hingga mereka numpang mandi di bumi? Saya tidak peduli, mungkin sedang kemarau disana.


Adapun di belakang telaga, pegunungan Andes terlihat dari negeri Cipadung bagai sebuah silhouete tipis. Di pagi hari membentuk wajah indah kekasih hati, di sore hari membentuk wajah penagih utang.

Ya Tuhan, sungguh elok negeri Cipadung, dimana matahari berwarna biru dan tak ada nyiur yang bergerak lebay.

Adapun saya adalah seorang bangsawan yang terhormat laksana bendera. Menikmati sisa usia yang semoga masih lama. Tanpa memiliki pekerjaan, tapi tetap bahagia. Seperti kebahagiaan orang-orang yang memiliki perusahaan, tapi tidak punya karyawan seperti saya.

Ya Tuhan, sungguh indah hidup ini, dimana tidak ada manusia yang bisa memerintah diri ini, karena bagiku hanya Engkau-lah satu-satunya yang berhak melakukan itu.