Chapter 8 - Kemampuan Tanpa Kemampuan
Waktu menunjukan jam 12.30. Setelah acara pembukaan dengan sambutan dari Ketua RT.03 yang panjang dan bertele-tele, kemudian dilanjutkan dengan rehat Shalat Dzuhur, maka acara puncak sayembara pun dimulai. Sayembara memperebutkan hadiah utama Neng Dedeh itu, terbagi ke dalam 4 babak dengan sistem gugur.
Babak Pertama adalah Tes Kemampuan Dasar, dimana para peserta wajib menjawab 100 soal pilihan ganda campuran yang diberikan oleh Panitia dalam waktu 3 menit. Dari babak tersebut, diambil 20 peserta dengan nilai tertinggi.
Selanjutnya Babak Kedua adalah Tes Keahlian, dimana para peserta yang lolos babak Pertama wajib mempertontonkan segenap keahlian yang dimilikinya. Di babak ini, penilaian dilakukan oleh Dewan Juri yang disumpah tidak akan bisa disogok maupun disuap. Neng Dedeh sendiri, di babak ini memiliki hak untuk memberikan wild card kepada 1 orang kontestan yang dianggap pantas menurutnya. Dari Babak Kedua ini diambil 10 orang yang berhak mengikuti babak selanjutnya.
Babak Ketiga adalah Tes Pengujian, dimana di babak ini Neng Dedeh dan orang tuanya langsung mengajukan pertanyaan kepada peserta secara lisan. Dari babak ini dipilih 2 orang yang menurut Neng Dedeh dan orangtuanya memiliki jawaban terbaik.
Babak terakhir merupakan Babak Hidup Mati, yaitu 2 peserta terbaik bertarung di arena semacam tempat Gladiator zaman Romawi dulu beraksi. Kedua peserta itu, harus saling mengalahkan. Selanjutnya masih ada babak bonus, pemenang dari babak Final ini akan mendapatkan babak bonus menarik, yaitu harus menaklukan 17 ekor Srigala Berbulu Domba dan 6 ekor Buaya darat, laut, dan udara, yang semuanya memang sengaja dibuat lapar terlebih dahulu.
Kontestan yang berhasil melewati semua tahapan itu, berhak untuk membawa pulang Neng Dedeh yang tentunya wajib sebelumnya dinikahi dulu di hadapan penghulu terkenal Kampung Nongtot Jodo, yaitu Bapak Encuy.
Babak Pertama dimulai, para peserta sayembara memasuki Gedung Serba Guna dengan raut wajah tegang. Beberapa pendekar terlihat masih membawa buku Kumpulan Soal-Soal Sayembara 2011 yang banyak dijual di seputaran kampung. Tampak Kapten Hook sibuk menghapal UUD’45 dan butir-butir Pancasila, saya juga melihat Ki Linglung sedang berusaha keras mengingat rumus-rumus matematika yang kemungkinan besar akan keluar di soal sayembara ini. Sementara Gerombolan Si Berat tidak terlihat sekalipun ikut menghapal, tetapi mereka sibuk menaburkan tanah kuburan ke sekeliling Gedung Serba Guna, itu rupanya petunjuk dari “Guru Spiritual”nya agar mereka bisa lolos sayembara ini.
Dari 7000 orang peserta yang terdaftar, 6950 peserta dianggap gugur karena tidak membawa pensil 2B, yang wajib digunakan untuk melingkari jawaban yang benar. Mereka keluar Gedung Serba Guna sambil histeris menangis, bahkan 3 orang dari Pendekar yang gagal tersebut langsung pingsan ketika dinyatakan gugur sebelum bertanding. Ternyata yang pingsan itu adalah Gerombolan Si Berat, rupanya tuah dari tanah kuburan tidak mampu mengalahkan kekuatan pensil 2B.
Soal ujian pun dibagikan, tetapi masih belum boleh dibuka sampai nanti terdengar wasit yang memimpin pertandingan membunyikan peluit tanda dimulainya pertandingan. Penonton di luar gedung tak henti-hentinya memberikan semangat kepada jagoannya. “tu wa ga pat….yo… ayooo….. ayooo Ki Linglung…. ku ingin, kamu pasti menaaaang….”, begitulah kira-kira yel-yel yang diberikan oleh KlungMania, kelompok supporter fanatik Ki Linglung yang bercirikan pakaian bercorak polkadot.
Ketika peluit yang sudah dipegang wasit akan segera ditiup, Si Buta Dari Goa Hantu bangkit dari tempat duduknya dan berkata dengan nada tinggi, “sayembara ini sangat diskriminatif…… seharusnya panitia memberikan soal yang menggunakan huruf braile kepada saya yang memiliki keterbatasan penglihatan!”. Si Buta Dari Goa Hantu kemudian keluar Gedung Serba Guna tanpa menunggu penjelasan dari Panitia Pelaksana. Ia memilih mengundurkan diri, demi keadilan yang masih belum dijalankan di Kampung Nongtot Jodo ini.
Satu saingan berat, sudah keluar… tapi sepertinya masih banyak Pendekar lain yang bisa menjadi batu sandungan untuk saya. Ketika peluit dibunyikan, semua peserta langsung mengerjakan soal dengan sekuat kemampuannya, maklum waktu yang diberikan hanya 3 menit.
Soal-soal kebanyakan membahas tentang perundang-undangan yang sama sekali tidak saya mengerti, begitu pula dengan soal matematika yang memerlukan rumus yang panjang untuk menyelesaikannya. Belum lagi soal-soal lainnya seperti fisika dan kimia, semuanya tidak saya kuasai, sudah lama saya tidak bersentuhan dengan pelajaran-pelajaran seperti itu, sekalipun waktu sekolah pernah bersentuhan, tapi sungguh…. dulu saya tidak pernah memakai perasaan.
Sementara itu, pendekar yang duduk di samping saya, tubuhnya begitu rapat menutupi lembar jawaban, itulah karakter seorang pendekar yang pelit.
“tidak mungkin panitia memberikan 100 soal dalam waktu 3 menit, pasti ini ada apa-apanya….”, saya bergumam sendiri, dan seketika itu pula saya menganalisa dan menemukan sebuah kesimpulan yang fantastis.
“karena hadiah utamanya adalah Dedeh , maka pastilah semua jawabannya adalah ‘D’…. dech!”, kata saya dalam hati sambil secepat kilat melingkari 100 soal di lembar jawaban pada huruf ‘D’ tanpa melihat soal.
Hanya dengan waktu 1 menit 14 detik, saya bangkit dan langsung mengumpulkan lembar jawaban ke meja Panitia. Semua peserta dan panitia memandang tak percaya perihal kemampuan saya. Poleng yang melihat dari kaca jendela, tak kuasa menahan bangga sambil berkata pada orang-orang, “wau wau” yang artinya, “dialah dia… Tuan-ku yang sungguh brilian”.
Pengumuman Babak Pertama diumumkan, alhamdulillah saya lolos ke babak selanjutnya bersama 19 orang lainnya. Bahkan saya menempati posisi teratas dengan nilai 100!. Poleng semakin kagum pada saya, begitu pula Neng Dedeh yang mendatangi saya untuk menyampaikan ucapan selamat.
“selamat ya, Kang… saya sangat kagum dengan kepintaran anda…”, kata Neng Dedeh sambil menelungkupkan kedua tangan seperti gerakan hendak berjabat tangan, tapi tanpa menyentuh tangan lawan bicaranya. Itu tanda penghormatan terbaik dari seorang muslimah kepada lelaki yang bukan muhrim.
“oh, iya…”, hanya itulah kata yang bisa keluar dari mulut saya, begitu berhadapan langsung dengan Sang Bidadari Nongtot Jodo itu.
Babak Kedua yang merupakan Tes Keahlian pun dimulai, karena di babak pertama saya menempati ranking pertama, maka di babak ini saya mendapat giliran terakhir untuk menunjukkan sebuah keahlian. Sambil menunggu giliran, saya berpikir keras apa yang akan saya tunjukkan nanti di hadapan dewan juri. Di tengah saya sedang berpikir, tiba-tiba datang suara perempuan menyapa.
“Kang… si Akang mah ngebohong…. katanya ga akan ikut sayembara…”, kata suara perempuan itu yang ternyata Cindy sang penjaga kedai.
“Eh Cindy… iya … biar surprise”, jawab saya alakadarnya, karena kalau diceritakan alasan jadi ikut sayembara dari awal, saya malas…. terlalu panjang, sudah panjang-panjang belum tentu dia percaya, kan mubazir!.
“kenapa… kaya yang bingung, Kang? nanti mau nampilin apa?”, tanya Cindy yang langsung duduk di antara saya dan Poleng.
“justru itu Cin, lagi bingung… ada ide?”, saya balik nanya.
“wau wau”, jawab Poleng tanpa diminta, yang artinya, “alangkah mempesonanya jikalau Tuan menampilkan peragaan tidur”.
“Poleng, itu bukan keahlian!”, jawab saya kesal pada ide Poleng yang semakin membuat runyam suasana.
“ya terserah Akang atuh…. bisanya apa?”, kata Cindy malah balik bertanya dan sama sekali tidak memberikan solusi.
“ga bisa apa-apa Cin…. kayanya tipis harapan buat menang”, jawab saya dengan asa yang putus.
“jangan gitu, Kang…. kasian Neng Dedeh!”, jawab Cindy dengan mimik serius.
“emang kenapa Neng Dedeh ?”, saya balik tanya sama Cindy, dengan mimik yang serius tanpa santai.
“tadi liat sendiri kan? Neng Dedeh nyamperin ke Akang, padahal ke peserta yang lain mah nggak…”, jawab Cindy dengan antusias.
“ya itu kan gara-gara saya dapet nilai tertinggi… wajar lah”, jawab saya tanpa mau ada perasaan GR di dalam dada walau sebesar atom.
“yee si Akang mah… liat atuh dari matanya… keliatan banget kalo dia suka sama Akang”, balas Cindy tak mau kalah, dengan logat Sunda yang kental manis.
“wau wau”, tambah Poleng sok tau, yang artinya, “saya pun juga melihatnya Tuan…”.
“ah masa sih?... kayanya pendekar lain banyak yang cakep….”, jawab saya lurus tanpa berkelok-kelok.
“Neng Dedeh mah ga butuh yang cakep, kalo dia pengen yang cakep, pastinya juga bikin lomba model!”, kata Cindy menjelaskan. Penjelasannya kali ini melahirkan rasa optimis baru dalam jiwa raga saya. Tapi aneh, setiap kali melihat Cindy berbicara, rasanya perempuan itu terlihat semakin cantik dan membuat dada ini bergetar.
“ah, mengapa saya menjadi mudah jatuh cinta? Padahal seharusnya cinta itu tak mudah untuk dijatuhkan….”, kutuk saya dalam hati, mensikapi perasaan dalam diri.
“wau wau”, timpal Poleng membuyarkan perasaan saya, yang artinya, “jadi menurut Cindy, Tuan-ku ini tidaklah tampan?”.
Dasar Poleng, seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi. Masalah itu tidak perlu ditekankan, cukuplah itu sebagai sesuatu yang tersirat.
Ketika Cindy hendak menjawab pertanyaan Poleng, tiba-tiba semua penonton yang menyaksikan babak Tes Keahlian berdiri dan bertepuk tangan dengan histeris. Itu terjadi karena kontestan pertama yang merupakan Pendekar Dari Cina memperagakan aksi sulap yang spektakuler. Ternyata pendekar yang bernama Wong Fei Hung itu berhasil menghipnotis semua penonton yang hadir untuk berdiri dan bertepuk tangan. Sayapun ikut terhipnotis yang seakan-akan memberi standing applause untuk dia. Tidak cukup disitu, aksinya dilanjutkan dengan memasukan sumpit bambu ke dalam lubang hidungnya. Penonton yang sudah duduk kembali, menahan nafas melihat aksi yang menegangkan tersebut. Sumpit bambu yang dibenamkan itu tiba-tiba hilang, tidak diduga dari lubang hidungnya kemudian keluar sebuah helikopter yang langsung terbang dengan membawa spanduk bertuliskan “DEDEH …. WO AI NIIIIIII…….”.
Lagi-lagi penonton berdiri untuk memberikan tepuk tangan, tetapi kali ini tanpa dihipnotis oleh Wong Fei Hung. Begitu juga dengan Neng Dedeh yang berada di podium pun memberi tepuk tangan dengan muka yang merah meronta-ronta. Wanita mana yang tidak akan bangga, melihat usaha pria yang menginginkannya sebegitu hebat. Saya merasakan semacam sebuah rasa cemburu ketika melihat Neng Dedeh yang begitu lama bertepuk tangan untuk aksi yang ditampilkan Wong Fei Hung.
“wau wau”, teriak Poleng sambil melompat-lompat yang artinya, “Jayalah Wong Fei Hung!!!”. Setelah itu dia langsung duduk, mukanya tegang, kemudian berkata, “wau wau”, yang artinya, “maaf Tuan, terbawa suasana….”.
Kontestan lain satu-persatu memperagakan keahliannya, ada yang jelek, ada yang bagus, meskipun tidak ada yang sebagus aksi Wong Fei Hung. Beragam keahlian dipertontonkan, Ki Linglung memperagakan Tari Hula-Hula, sambil bergoyang kedua tangannya mengangkat papan bertuliskan “NENG DEDEH , YU MARI!”. Kemudian Robin Hood menampilkan aksi berlenggak lenggok di atas catwalk, dengan baju pengantin yang akan dipakai jika berhasil menikahi Neng Dedeh, pakaian itu merupakan karya desainer kondang Hutan Sherwood. Lalu, Brama Kumbara membuat masakan udang bumbu saus tiram khusus untuk Neng Dedeh. Selanjutnya, Tiger Wong memperlihatkan keahliannya mengetik 11 jari, dia mengetikan 100 kata “Dedeh Jubaedah” dalam waktu 4 detik. Si Kera Sakti membacakan puisi perjuangan berjudul “Membela Dedeh dan Tanah Air”. Sementara itu, Kapten Hook menampilkan tepuk pramuka dengan versi baru, Tepuk Pramuka remix featuring DJ David. Kapten Hook dan DJ tersebut mempertontonkan kemampuan loop di turn table nya, sehingga berbunyi “prok prok prok… prok prok prok… prok prok prok… prok prok…. prok prok….chiki cik icik wakuwow… deeee……deeeeeh”.
Kontestan sisanya mengandalkan tarik suara sebagai keahilan. Semuanya membawakan tembang cinta khas Melayu yang mendayu-dayu. Seperti hal kebanyakan band saat ini yang menjamur, para pendekar itu mendadak menjadi gerombolan seniman penjaja cinta. Dengan gaya mata terpejam sesekali meneteskan air mata, tangan menjulur ke depan dengan jemari yang dibuka lebar, kemudian menepuk dada dengan tangan terkepal, mereka berharap jadi pemenang hati Neng Dedeh. Para penonton pun larut dalam nyanyian, mereka begitu kompak dalam gerakan, padahal saya yakin para penonton itu tidak latihan dulu sebelumnya, hebat!.
Sampailah pada saat yang menegangkan, nama saya sebagai kontestan terakhir dipanggil untuk maju ke hadapan dewan juri. Sampai saat panggilan itu, saya belum menentukan keahlian apa yang akan saya peragakan.
|^_^|
:))
:)]
;))
;;)
:D
;)
:p
:((
:)
:(
:X
=((
:-o
:-/
:-*
:|
8-}
~x(
:-t
b-(
x(
=))