Chapter 6 - Penginapan Tanpa Rasa Nyaman
Memasuki ruangan kamar penginapan dengan kelelahan yang luar biasa, ini baru lagi dirasakan, tepatnya sejak saya terakhir kali berolah raga saat pelajaran EBTA Praktek di kelas 6 SD dulu.
Pemilik kamar penginapan ini saya yakin tidak punya maksud untuk berkonsep tradisional, tetapi memang begitulah keadaannya, dibuat apa adanya. Ranjangnya hanya satu, ukurannya hanya cukup untuk satu orang. Sebenarnya bisa saja meminta extra bed, tapi katanya harus ngambil sendiri, maksudnya ngambil sendiri dari rumah masing-masing.
Pintu kamarnya seperti pintu di saloon film cowboy, sehingga tidak ada privasi sama sekali, tapi saya orang yang selalu bersyukur. Saya anggap dengan pintu ini, bisa menyelamatkan kami dari fitnah orang-orang yang menganggap saya dan Poleng akan melakukan kegiatan yang tidak terpuji di kamar ini.
Dari kaca jendela kita bisa melihat pemandangan ke kamar sebelah, itu yang membuat saya tidak nyaman, karena kamar sebelah adalah kamar mayat. Langit-langit kamarnya terbuat dari anyaman bambu, motifnya adalah gambar wajah sang pemilik penginapan, sebenarnya ini cukup mengganggu, tapi setelah dipikir-pikir justru akhirnya saya bersyukur lagi dan benar-benar menyadari, bahwa Tuhan juga pernah menciptakan lelaki yang tidak setampan saya.
Lemarinya sudah miring ke kanan, itupun tak bisa kami isi. Karena di dalamnya sudah penuh oleh perabotan seperti cangkul, printer, bumbu dapur, tabung gas dan jas hujan. Di kamar mandinya hanya ada sumur, airnya harus kita sendiri yang menimba. Jelas itu, masa air yang datang sendiri? Untungnya airnya itu air panas, itu disebabkan karena ember yang dipakai untuk menimba terbuat dari kompor.
Melihat kondisi tempat tidur yang hanya satu, saya memberikan penawaran yang menarik kepada Poleng.
“Poleng, bagaimana kalau yang tidur di ranjang ini, kita lakukan secara bergiliran?”, tanya saya meminta persetujuan Poleng.
“wau wau”, jawab Poleng yang artinya, “apapun pendapat dari Tuanku, pastilah itu yang terbaik”.
“Bagus! kalau begitu…. dari sekarang sampai jam 1, saya tidur di atas, kamu di lantai”, kata saya, semoga Poleng setuju.
“wau wau”, jawab Poleng yang maksudnya, “lalu selanjutnya, Tuan?”
“Selanjutnya, saya bangunkan kamu untuk shalat Tahajjud! Sambil menunggu kamu Tahajjud, saya tidur dulu di atas ranjang”, begitu saran saya selanjutnya.
“wau wau”, jawab Poleng yang artinya, “terima kasih Tuan, sungguh engkau Tuan yang sangat berahlak baik, engkau begitu ikhlas membangunkanku untuk melaksanakan ibadah”.
“nah, selanjutnya…. setelah kamu selesai tahajjud, tunggulah sebentar sampai terdengar adzan Subuh, lalu giliran kamu yang bangunkan saya, dan kamu boleh tidur di atas….. begitu saya beres shalat Subuh, kita harus langsung bergegas melanjutkan perjalanan!”, kata saya memberi penjelasan mengenai pembagian waktu tempat tidur.
“wau wau”, jawab Poleng yang ini berarti, “Tuan, tidak pernah saya mendengar pembagian se-adil ini….. saya sangat setuju!!!”
Agar tidak terjadi perselisihan di kemudian waktu, maka saya buatkan semacam surat perjanjian yang telah dibubuhi materai 6000, untuk ditandatangani Poleng sebagai tanda persetujuan. Setelah semua dokumen perjanjian dirasa lengkap, sayapun langsung naik ke atas ranjang.
Baru saja saya bermimpi tentang kalajengking yang bisa memasak nasi goreng, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara tertawa keras dari orang-orang yang berada di luar kamar. Mata ini saya buka, saya lihat juga Poleng sudah berdiri karena merasakan gangguan yang sama.
“wau wau”, kata Poleng yang artinya, “Tuan, izinkan saya untuk memenggal lidah mereka…”
“tidak perlu Poleng, biarkan mereka tertawa…. suara tawa jauh lebih baik daripada suara tangisan”, kata saya yang diungkapkan secara heroik di atas ranjang.
“kita kedatangan pesaing…. hahahaha…… rupanya mereka tidak tahu siapa kita… mau cari mati disini!!”, begitulah suara yang terdengar dari luar kamar. Suara itu sepertinya sengaja dibuat keras agar terdengar oleh semua orang, tujuan perkataannya pastilah pada kami. Setelah orang tadi berbicara, tak lama kemudian terdengar suara tawa yang semakin keras dari teman-temannya.
Wajah Poleng memerah, menahan marah yang membelah akal sehatnya. Dia sudah mencabut gunting kuku yang selalu diselipkan di balik bajunya. “wau wau”, kata Poleng kemudian yang artinya, “Tuan, ucapan seperti itu pastilah keluar dari mulut orang yang punya kuku panjang”.
“Poleng, ucapan seseorang adalah cerminan dari hati, tidak ada hubungannya dengan kuku!”, kata saya memberi penjelasan, agar Poleng terhindar dari persepsi yang keliru.
“wau wau”, jawab Poleng yang artinya, “ah seandainya saja saya punya gunting hati….”.
Saya lalu keluar kamar, dengan maksud mau mengingatkan mereka agar tidak terlalu gaduh. Menurut saya mengganggu orang tidur adalah perbuatan yang sama buruknya dengan mengganggu istri orang.
Di lorong antara kamar-kamar yang berderet, ternyata sudah dipenuhi oleh para pendekar yang sebagian sudah saya lihat tadi sore di kedai lantai bawah. Dadang sebagai pimpinan dari Gerombolan Si Berat, tampaknya menjadi pusat perhatian diantara mereka yang terlihat sedang mabuk berat, kira-kira berat mabuknya adalah 7 kg.
Kali ini, ada pendekar yang baru saya lihat, pendekar dengan kepala botak di bagian depan, sedangkan bagian belakang rambutnya panjang dengan model diuntai. Ia menggunakan baju panjang berwarna telor asin. Dari wajahnya, tampaknya ia datang dari negeri Cina. Ia berkata hanya sekali-kali, itupun tidak ada satupun orang disitu yang mengerti maksudnya. Mungkin itu hanya bagian dari cara dia bersosialisasi, agar terlihat berbaur dengan pendekar lokal.
Sementara pendekar yang duduk di tangga dari tadi tertawa terbahak-bahak tanpa jelas apa maksud tawanya itu. Lelaki berkulit putih, berhidung mancung itu mengenakan pakaian hijau dengan rompi coklat, tangan kanannya menggenggam busur panah, sementara tangan kirinya memegang penggaris. Apa maksudnya? Tidak tahu, tanya saja sama dia, kenapa tanya sama saya?!?!.
Ketika saya berdiri di tengah-tengah mereka, pandangan semua orang tertuju pada saya. Tampak dari mata mereka ada sorot kebencian. Bahkan terlihat, Diding sudah berdiri dengan tangan yang mengepal.
“maaf, Kang, sudah malam…. belum pada tidur?”, saya meminta agar mereka tidak terlalu ribut, dengan cara sehalus gula merah yang ditumbuk.
“apa urusannya?!?! memangnya kami anak kamu…..? nyuruh-nyuruh tidur!!”, bentak Kapten Hook dengan satu tangannya yang terbuat dari besi runcing tepat menunjuk ke hadapan muka saya.
“bukan begitu, Kang, katanya besok kan mau ada sayembara, jaga stamina… biar besok seger”, jawab saya dengan alasan yang semoga bisa diterima.
“tanpa tidur pun saya pasti menang!”, bentak Dudung. Tapi kalimat itu rupanya membuat pendekar lain berang, masing-masing berkata “enak saja, saya yang bakal menang!”. Suasana pun semakin gaduh, dan saya tidak bisa mengontrol emosi mereka.
“cing cang keling ciling cing cet!!”, tiba-tiba keluar teriakan pendekar dari Cina sambil melompat dan tangannya dibentangkan lebar-lebar. Semua pendekar saling berpandangan, pastinya tidak mengerti, termasuk saya, meskipun saya bukan pendekar.
“wau wau”, jawab Poleng tiba-tiba yang artinya, “tong polon tong ke di tam pi ling”.
“Poleng apa maksudnya?”, tanya saya takjub melihat Poleng yang bisa berinteraksi menggunakan bahasa Cina.
“wau wau”, jawab Poleng yang artinya, “kami tidak akan turut dalam sayembara”.
“Bukan… bukan maksud omongan kamu…. yang tadi…. yang orang Cina itu omongin!”, kata saya.
“wau wau”, jawab Poleng lagi yang artinya, “ooh yang itu, dia menantang kita untuk bertarung di sayembara, Tuan!”.
“cing cang cang, sia tong rea licong!”, kata Pendekar Cina sambil menyentuh ujung hidungnya dengan jempol kiri.
“wau wau”, kata Poleng yang artinya, “Tuan, dia menganggap kita takut!”.
“Bilang sama dia Poleng, saya tidak takut, cuma lagi banyak urusan!”, kata saya meminta Poleng untuk menjadi penterjemah. Sementara pendekar lain berbisik-bisik dan mulai memperhitungkan kemampuan Poleng yang menakjubkan itu.
“wau wau”, kata Poleng pada Pendekar Cina yang maksudnya “pi ring seng sing ceng li”.
Pendekar Cina itu kemudian tertawa lalu berkata, “cipati cipati, cing caw na beling”.
“Apa katanya, Poleng?”, tanya saya penasaran.
“wau wau”, kata Poleng dengan bangga yang artinya “katanya saya cantik, Tuan!”.
“shiooooooooooooooo…. may na se’eng cing pang ban ting keun”, kata Pendekar Cina kali ini dengan gerakan memutar dan memasang kuda-kuda.
|^_^|
:))
:)]
;))
;;)
:D
;)
:p
:((
:)
:(
:X
=((
:-o
:-/
:-*
:|
8-}
~x(
:-t
b-(
x(
=))