Chapter 7 - Dedeh Sang Primadona
Usai shalat Subuh, saya tidak langsung membangunkan Poleng, dipikir-pikir kasihan juga, ia belum merasakan tidur di ranjang. Lagipula kami tidak akan langsung melanjutkan perjalanan, tetapi akan ikut dulu Sayembara di Kampung Nongtot Jodo. Sayembara dibuka jam 8 pagi, masih ada waktu sekira 3 jam, lumayan bisa dipakai untuk persiapan, menyiapkan jurus yang nanti akan dipakai di perlombaan.
Tapi saya baru sadar, kalau saya belum pernah belajar bela diri. Jangankan jurus, berkelahi saja saya tidak pernah. Tapi demi menjaga harga diri di depan semua orang termasuk Poleng, saya tetap nekad mengikuti sayembara ini. Jujur saja, nanti di ajang sayembara itu saya akan total mengandalkan Poleng, dengan badannya yang besar serta tenaganya yang kuat, saya yakin tidak ada satupun pendekar yang bisa menandingi kekuatannya.
Entah karena tegang dalam menghadapi Sayembara, waktu dirasakan menjadi cepat berputar. Jarum jam yang pendek sudah menunjukan ke posisi antara angka 6 dan 7. Para penghuni penginapan yang merupakan para Pendekar kelas wahid, satu persatu keluar kamar dan menuju Kampung Nongtot Jodo yang kira-kira hanya berjarak 3 menit apabila ditempuh menggunakan mobil Formula 1. Sayangnya disini tidak ada mobil jenis itu, jadi terpaksa harus jalan kaki, sampainya 1 jam kemudian, itu pun kalau tidak istirahat. Untuk apa ada istirahat? memangnya sekolahan!.
“SELAMAT DATANG PARA PESERTA SAYEMBARA”, begitulah tulisan spanduk yang terpampang di jalan masuk menuju Kampung Nongtot Jodo. Para penduduk desa terlihat antusias menyambut tamu yang datang, seolah-olah mereka adalah tuan rumah penyelenggara Olimpiade. Beberapa pedagang souvenir menggelar dagangannya di pinggir jalan, t-shirt bertuliskan “DEDEH ATAU MATI” rupanya paling laris dibeli pengunjung. Poleng pun berniat membeli t-shirt itu, tapi sayang tidak ada ukuran yang muat dengan badannya. Akhirnya dia membeli gantungan kunci berbentuk semangka. Apa hubungannya sayembara dengan semangka? Jelas ada! Yaitu sama-sama berawalan ‘S’ dan berakhiran ‘A’.
Kami segera menuju tempat pendaftaran, rupanya disana sudah banyak pendekar yang daftar, tetapi tidak sedikit pendekar yang gugur di tahapan pendaftaran ini. Rupanya mereka tidak bisa melengkapi persyaratan yang ditentukan oleh panitia pelaksana. Persyaratan itu antara lain :
- Uang pendaftaran Rp. 150.000,- (termasuk soft drink),
- Berjenis kelamin Pria (dibuktikan dengan cara bersumpah),
- Sekurang-kurangnya 17 tahun, dan setua-tuanya adalah 35 tahun. (dibuktikan melalui KTP serta membawa lilin bekas ulang tahun terakhir),
- Foto Copy Ijazah Terakhir yang telah dilegalisir oleh petugas sekolah/kampus (penjaga kantin tidak termasuk petugas yang berwenang),
- Kartu Pencari Kerja dari Dinas Tenaga Kerja (yang bukan tenaga kerja tidak perlu dinas),
- Surat Keterangan Sehat dari dokter Pemerintah yang syah melalui Pemilu yang jujur dan adil serta dicintai oleh segenap warga negara,
- Surat Keterangan Kematian (apabila sudah meninggal),
- Surat Keterangan Kelakuan Baik (dari instansi yang berwenang mengeluarkan pernyataan bahwa seseorang itu benar-benar baik atau jahat),
- Pas Foto 3x4=12 buah durian (sempat tidak sempat, gaya terserah kalian).
Beruntung saya selalu membawa persyaratan itu di dalam rangsel, itu bekas persyaratan ikut test PNS kemarin. Tetapi saya baru sadar kalau Poleng tidak punya KTP dan ijazah seperti yang diwajibkan dalam persyaratan. Akhirnya dengan perasaan ketar-ketir, saya maju ke tempat pendaftaran sendirian. Dalam hati ada perasaan menyesal telah tergiring ke tempat ini karena mengikuti hawa nafsu. Bukan nafsu karena hadiahnya, tapi nafsu karena terpancing hasutan Pendekar Cina yang membuat emosi saya tidak terkontrol waktu semalam. Mengenai hadiah, sumpah saya tidak berminat, lagipula saya tidak tahu siapa Dedeh, lagipula saya sudah punya Mimin.
Acara pembukaan sayembara dimulai, Ketua Panitia Pelaksana segera membuka acara secara simbolis, dengan melepaskan 3 ekor burung merpati dan 2 ekor harimau kumbang, acara secara resmi dibuka. Penonton tepuk tangan dan seperempat penonton yang hadir pun langsung tewas diterkam harimau.
“Sayembara ini memperebutkan hadiah utama yaitu…… Neeeeeeeeeeng…. Deeee….. deeeeeh!!!!“, begitulah pemberitahuan dari Ketua Panpel yang disambut dengan gegap gempita oleh penonton yang hadir maupun yang telah tiada.
“ehm…ehm”, itu yang berdehem adalah Ketua RT.
“oh iya lupa, dan tentunya ditambah trofi dari Ketua RT 03, Pa Ujuuuuu Suratmaaaaaaaaan!!!!”, kata Ketua Panpel yang sempat lupa menyebut hadiah tambahan tersebut. Pa Uju langsung berdiri dengan senyuman yang mengembang seraya melambaikan tangan bak politikus tingkat nasional. Kali ini penonton menyambutnya dengan sikap yang dingin.
“Hadiah kedua adalah jam dinding cantik persembahan dari Ibu Ketua RT 03, Ibu Ujuuuuu Suratmaaaaaaaaaaan!!!!”, seru Ketua Panpel sambil mengacung-acungkan hadiah jam dinding dengan gambar foto Ibu Uju yang sedang memakai kaca mata hitam. Penonton pun menyambutnya dengan sikap yang semakin dingin.
“Hadiah untuk juara ketiga adalah Kulkas 2 Pintu, 4 Jendela, persembahan dari Maaaang Ujaaaaaaaaaaang!!!!”, Ketua Panpel kembali mengumumkan hadiah dari Mang Ujang yang merupakan penyandang dana dari acara sayembara tersebut. Penonton yang hadir kali ini bertanya-tanya, dan salah seorang dari mereka maju ke depan sambil berkata, “Kenapa hadiah ketiga lebih bagus dari hadiah kedua?”, begitulah pertanyaan yang diajukan penonton tersebut setelah sebelumnya menyebutkan nama dan alamat.
“Karena Mang Ujang bukan RT, jadi tentunya hadiah dari pejabat pemerintah jauh lebih terhormat daripada hadiah yang diberikan rakyat biasa”, kata Pa Uju yang tiba-tiba menyambar mic yang dipegang oleh Ketua Panpel. Mendengar pernyataan resmi tersebut, wajah Mang Ujang mendadak murung karena teringat masa Pemilihan RT kemarin. Ia kecewa karena di pemilihan RT, suaranya kalah tipis dari Pa Uju. Mereka berdua sama-sama bersuara bariton. Karena persamaan suara, Pemilihan itu terpaksa harus diakhiri dengan adu tendangan penalti.
“Baiklah, tentunya anda tidak sabar melihat hadiah utamanya….. mari kita hadirkan ke atas pentas…. Neng Dedeeeeh!!!”, kali ini Ketua Panpel kembali merebut mic dari Pa Uju.
Sebelum Neng Dedeh benar-benar hadir, tampak di layar besar yang dipasang di kanan dan kiri panggung, menampilkan profil dari Neng Dedeh dengan suara narator yang sengaja dibuat elegan dan menggema :
“Dedeh Jubaedah, begitulah nama lengkap dari wanita kelahiran Kampung Nongtot Jodo 10 Oktober, 18 tahun yang silam. (tampak di layar, foto Neng Dedeh dengan background air terjun). Wanita yang akrab disapa Neng Dedeh ini merupakan lulusan terbaik dari Madrasah Tsanawiyah masih di kampung yang sama. (tampak di layar, Neng Dedeh sedang menulis di papan tulis). Kesehariannya adalah berbakti kepada Ayah dan Ibu. (tampak di layar, Neng Dedeh sedang mencium tangan kedua orang tuanya). Dan hobinya adalah melakukan ibadah sesuai dengan syari’at Islam…. (tampak di layar, Neng Dedeh sedang berpuasa).
Masih yang tampak di layar, kali ini narator mengajukan beberapa pertanyaan kepada Neng Dedeh , yang sepertinya direkam saat Neng Dedeh sedang memasak tumis kangkung.
“Apa motivasi anda, mengikuti sayembara ini… atau tepatnya menjadi hadiah utama dari sayembara ini?”, tanya sang narator.
“Bismillahirohmannirohiim…. saya pengen dapat jodoh yang terbaik”, jawab Neng Dedeh singkat tapi dengan nada gemetar.
“Seperti apa kriteria pasangan idaman anda?”, sang narator kembali bertanya.
“Insya Allah, yang berahklaq baik…. yang shaleh, yang sayang sama saya, sama Ambu, sama Abah….”, jawab Neng Dedeh dengan polos tapi tetap sopan berbusana.
Layarpun kemudian mati (maksudnya tidak bergambar lagi), dan tiba-tiba dengan iringan gamelan Sunda berkompilasi dengan suara rebana dari Timur Tengah, Neng Dedeh pun hadir langsung ke atas pentas. Suara penonton semakin riuh bergemuruh, melihat Neng Dedeh sang primadona kampung berdiri di atas panggung dengan begitu anggun. Mengenakan setelan jilbab berwarna putih, tidak membuat kulit putih Neng Dedeh terkalahkan warna pakaiannya. Wajahnya terlihat seperti keturunan Arab-Australia, matanya indah, sedikit sayu tapi bertenaga kuda, dan ia hanya mengangkat wajahnya ketika dirasa perlu. Hidungnya mancung, dari bibirnya tak sekalipun ia berhenti tersenyum. Senyuman yang teduh, seteduh pohon beringin di musim kemarau. Pokoknya ia tampak seperti bidadari yang pernah muncul sekali dalam mimpi saya. Tapi saya tidak ingat kapan waktunya saat saya bermimpi indah itu, maklum saya tidak pernah melihat jam dinding ketika tidur.
“Subhanallah….”, kata saya spontan begitu melihat langsung Neng Dedeh dengan mata kepala berdua (dengan Poleng).
“wau wau”, jawab Poleng yang artinya, “kenapa Tuan? adakah hati Tuan bergetar kala melihatnya?”.
Saya tidak menjawab, Poleng terus memijat-mijat pundak saya sambil sesekali memberikan instruksi, seperti seorang Pelatih yang mempersiapkan Petinjunya di atas ring. “wau wau”, katanya yang artinya, “pukul.. jab, satu dua, terus bergerak merunduk, waspada tangan kanan, perhatikan pertahanan…”.
Saya tidak memperhatikan instruksi Poleng, mata saya terus tertuju pada sosok Neng Dedeh . Saya sadar, pandangan pertama diperbolehkan, pandangan selanjutnya yang tidak boleh. Tapi kali ini saya benar-benar merasa tidak sadar, dan baru kali ini juga saya merasakan bahwa tidak sadar itu indah. Astaghfirullah….
|^_^|
:))
:)]
;))
;;)
:D
;)
:p
:((
:)
:(
:X
=((
:-o
:-/
:-*
:|
8-}
~x(
:-t
b-(
x(
=))