Chapter 11 - Cinta Buta
Saya segera menghadap Neng Dedeh dan orang tuanya, untuk menanyakan keputusan terakhir dari mereka, apakah Neng Dedeh mau menerima, dengan proses saya akan menyelesaikan urusan terlebih dahulu kemudian istikharah, atau Neng Dedeh akan memilih lelaki lain?
“saya mau menunggu, Kang”, jawab Neng Dedeh dengan mata berbinar penuh pengharapan.
“kalau ternyata hasil dari istikharah itu ternyata bukan Neng Dedeh?”, tanya saya lagi-lagi memastikan bahwa Neng Dedeh telah mengerti dengan konsekuensi pilihannya itu.
“saya percaya pada petunjuk Allah…”, jawab Neng Dedeh mantap.
“kalau begitu saya berjanji untuk memberi kabar secepatnya… do’akan saya Neng… mudah-mudahan ini yang terbaik untuk kita semua”, kata saya sambil pamit pada Neng Dedeh dan orangtuanya.
Malam semakin larut ketika kami mulai melanjutkan perjalanan memasuki kawasan Hutan Larangan. Bulan tampaknya tidak hadir malam itu, mungkin sedang ada keperluan. Keadaan semakin gelap karena pohon-pohon besar menguasai kawasan hutan ini, daunnya yang rimbun menutupi langit, hingga kami benar-benar gelap mata.
“Poleng, ayo keluarkan pencahayaan”, perintah saya pada Poleng yang masih setia dengan kerudungnya.
Poleng mengeluarkan lilin dengan kekuatan cahaya 25 watt, dan kami pun berjalan dengan panduan cahaya lilin yang terus bergoyang, karena sepanjang perjalanan Poleng bernyanyi dangdut. Rasanya sudah jauh kami berjalan, tapi anehnya selalu kembali ke tempat semula.
“wau wau”, Poleng berkata yang artinya “Tuan, seharusnya kita ke atas, bawah, bawah, atas, tengah”. Itu analisa Poleng, yang mengingatkan pada jalan di kastil Mario Bros level 8-4.
Ketika kami berusaha mengumpulkan kembali semangat untuk memulai perjalanan dari awal, tiba-tiba suara semakin senyap. Tidak ada lagi suara kodok dan jangkrik yang dari tadi menemani kami, apa mereka sudah tidur?
Tak lama berselang, bumi berguncang hebat, ranting-ranting pohon sebesar bis DAMRI berjatuhan menimpa kami, untung Poleng sigap mengeluarkan payung. Tidak cukup sampai disitu, Poleng berinisiatif mengeluarkan termometer dan menancapkannya di tanah.
“wau wau”, yang artinya “9,4 skala richter, Tuan!”, ujar Poleng sambil memperhatikan tanda merah pada termometer.
“ada apa ini?”, saya bertanya-tanya entah pada siapa, namun seketika itu juga terdengar suara mendesis muncul tepat dari atas kepala kami.
Ketika kepala ini mendongak ke atas, tampak jelas sosok yang sangat menyeramkan muncul tepat di depan wajah kami. Poleng berteriak “wau wau” yang artinya “ih kaget ih”. Saya tahu Poleng tidak punya rasa takut, mungkin kali ini sengaja ia eksperesikan sekedar untuk menghormati mahluk yang sudah berusaha membuat kami takut.
Mahluk itu sangat besar, wajahnya sebesar Pulau Jawa, kulitnya bersisik kuning dengan renda di sekelilingnya. Tak ada warna hitam pada bola matanya, hanya warna putih dengan gurat-gurat merah seperti darah. Kupingnya ada 3, posisi 2 kupingnya sama seperti manusia normal, sedangkan yang 1 lagi wireless, lagi tertinggal di rumahnya saat itu. Rambutnya gimbal terurai, tak tentu arah dan tujuan. Saking tak teraturnya, itu rambut sampai-sampai menyangkut di ranting pohon. Giginya bertaring tajam tak beraturan, 4 gigi taringnya bahkan menembus kulit bibirnya sendiri. Sementara ketika ia berdesis, keluar beberapa kelelawar dan kelinci dari mulutnya. Yang paling kontras dari wajahnya adalah dari hidungnya keluar cairan bening coklat kehijauan, mungkin sedikit lengket tapi licin. Cairan itu mengalir deras, apabila melintas ke bibirnya, lidahnya yang bercabang 3 menjilati cairan itu, dan apabila cairan itu luput dari jilatan maka akan meluncur cepat ke tanah. Tapi 2 inchi sebelum menyentuh tanah, hidungnya menyedotnya kembali, hingga masuklah cairan itu ke dalam lubang hidungnya dengan mantap. Sebuah skill yang luar biasa, mengingatkan saya pada atlet Yoyo Internasional.
“hei manusia, seenaknya saja kalian masuk ke wilayahku!!! Pasti kalian akan bermain gila di tempatku!!”, tuduh raksasa itu kepada kami, dengan suara yang melengking 100 desible tanpa amplitudo.
“siapa kamu?”, tanya saya tanpa mengindahkan fitnahannya itu.
“aku Ratu Ololeho, Penguasa Hutan Larangan!!, kau wanita muslimah…. Tak sepantasnya kau berjalan di tengah malam dengan lelaki yang bukan muhrim!!”, sebut sang raksasa, kali ini ucapannya diarahkan pada Poleng.
Lagi-lagi Poleng memperagakan aksi pura-pura takut, gerakannya adalah sebagai berikut:
- Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi
- Mata ditutup rapat
- Mulut dibuka menganga
- Mundur tiga langkah
- Terjengkang ke belakang
Saking semangatnya ketika terjengkang jatuh, kerudung yang dikenakannya terlepas dan akhirnya terkuaklah bahwa sebenarnya Poleng adalah seekor lumba-lumba jantan.
Mata Ratu Ololeho yang sedari tadi melotot tiba-tiba meredup tenang, begitupun mata Poleng yang memancarkan sinar yang berbeda dari biasanya. Melihat mereka saling bertatapan, mengingatkan saya pada pandangan Roy Marten terhadap Ita Mustafa dalam film romantis era 80-an.
Sekonyong-konyong datang rombongan burung merpati yang menari mengelilingi Poleng dan Ratu Ololeho, semuanya kompak mengenakan baju pink. Poleng tersenyum, Ratu Ololeho membalas senyuman itu dengan mata yang dikedipkan 14 kali. Mungkin inilah yang dinamakan Cinta Buta.
“hey kau manusia, kuizinkan kau melintasi hutan larangan ini, tapi biarkan temanmu ini berada disini untuk menjadi pendampingku.”, ucap Ratu Ololeho pada saya dengan suara yang lebih bersahabat.
Saya melihat ke arah Poleng, rasanya tidak tega saya merampas ketentraman hatinya.
“baiklah, jaga dirimu baik-baik Poleng, biarlah saya melanjutkan perjalanan ini sendiri”, kata saya dengan berbesar hati.
“wau wau”, jawab Poleng yang maksudnya “jangan Tuan! Meskipun hati ini telah berhenti pada wanita cantik ini, tapi biarkan saya untuk tetap mengabdi padamu, setidaknya menemani Tuan hingga puncak Ciremay”.
“wau wau”, Poleng menambahkan, kali ini ditujukan untuk Ratu Ololeho, yang artinya “cantik, seandainya kita memang berjodoh, tunggulah aku, sebelum purnama datang…. Aku pasti mempersuntingmu”.
“sungguh?”, tanya Ratu Ololeho manja, dengan ingus yang semakin menggila.
Poleng mengangguk mantap. Kamipun melanjutkan perjalanan, namun belum 7 langkah, Ratu Ololeho berteriak “Aa…. Tunggu”, sambil berlari manja ke arah kami, bumipun bergoncang lagi. Ia tidak sadar karena kelakuan centilnya itu, telah menimbulkan kerusakan dan kepanikan hebat di beberapa kota.
“ini A… simpen ini, kalau-kalau Aa inget sama Neng”, ujar Ratu Ololeho sambil mengeluarkan ingus dari hidungnya dan menyerahkan setumpuk ingus-nya pada Poleng.
Poleng menerimanya dengan mata berbinar.
|^_^|
:))
:)]
;))
;;)
:D
;)
:p
:((
:)
:(
:X
=((
:-o
:-/
:-*
:|
8-}
~x(
:-t
b-(
x(
=))