gravatar

Chapter 15 - Perang Nuklir


Sebuah penerbangan panjang dan melelahkan. 26 hari kami berada di dalam pesawat, bukan karena jarak yang jauh, tetapi karena pesawat sempat mogok, habis bensin. Sedang di angkasa tidak ada pom bensin. Kamipun menunggu pesawat lain yang lewat untuk meminta bantuan, setidaknya untuk meminta beberapa liter tetesan bensin, tetapi malangnya tidak ada yang mau berhenti.

Sampai akhirnya ada seorang pengemudi UFO yang baik hati, Alien dengan ahlak yang sungguh terpuji, dia menawarkan bahan bakar, tapi sayang UFO itu menggunakan solar, dan sang Alien menawarkan solusi lain, tak ada bensin tambang pun jadi, pesawat kami di derek UFO menggunakan tambang, sampai ke sebuah penjual bensin 2 tak di atas langit kota Tokyo.


Kami mendarat di Stanley Airport ketika langit berwarna merah. Akhirnya tiba juga kami di Stanley, ibu kota dari Falkland Islands atau orang Indonesia sering menyebutnya dengan nama Malvinas. Sebuah negara kepulauan yang berada di di Samudra Atlantik Selatan, dekat dengan benua Amerika.

Malvinas kini berada dibawah kekuasaan Kerajaan Inggris, dulunya sempat diperebutkan oleh Argentina dan Inggris dalam sebuah pertempuran yang sangat seru. Sayang, saya tidak ikut waktu itu.

Ketika kami berada di halaman bandara, beberapa tukang ojek sudah siap melayani setiap penumpang yang tidak bawa motor sendiri.

“ok Luna, kita berpisah disini.... mungkin nanti kita bisa bertemu lagi”, ujar saya sambil membawa koper yang berisi Poleng.

“hey jangan begitu, sekarang kalian akan kemana?”, tanya Luna seolah tidak mau berpisah dengan kami.

“wau wau”, jawab Poleng dari dalam koper yang artinya “kami hendak mencari kost-an”.

“ayolah, lebih baik kalian menginap di rumahku saja, memang hanya ada satu tempat tidur disana, tapi mungkin kita bisa menggunakannya bersama”, jelas Luna.

“wau wau”, kata Poleng sambil langsung lompat keluar koper yang artinya “1 tempat tidur Tuan!”.

Saya lihat Poleng begitu ceria setelah perkenalannya dengan Luna, terutama sejak rencana pernikahannya gagal. Karena itu saya langsung menyetujui usulan Luna untuk menumpang di rumahnya. Demi Poleng, tumben kami memiliki selera yang sama. Perlu diketahui, sejak saya tidak bercerita kepada anda semua, Poleng sudah ikut masuk kedalam kelompok Suku Maya. Ia pun langsung mendapat jabatan mentereng, yaitu Kepala Divisi Konsumsi Hari Kiamat.

“lebih baik kita jalan kaki saja, rumah saya berada di belakang bandara ini”, ucap Luna sambil menyusuri jalan gang yang berada tepat di sebelah bandara.

“wau wau” kata Poleng yang artinya “tidak masalah nona”. Poleng memang lebih aktif berbicara, sepertinya dia sedang berusaha merebut simpati Luna.

Setelah kami keluar dari gang sempit, terlihat sebuah komplek perumahan yang menurut ukuran orang Indonesia tergolong mewah. Rumah-rumahnya tanpa pagar, mungkin sedang pergi untuk makan tanaman.

Rumput di setiap halaman rumah, terlihat hijau menghampar, tapi rumput tetangga lebih hijau lagi. Di bagian belakang rumah-rumah itu, pemandanganya langsung mengahadap ke Samudra Atlantik yang begitu tenang berombak. Namun ketika air laut pasang, banyak perahu nelayan dan ikan hiu masuk ke dalam rumah.

“ini rumah saya, anggap saja rumah sendiri”, kata Luna sambil membuka pintu rumah yang tidak terkunci.

Tampak depan rumah ini memang hampir sama dengan rumah lainnya, tetapi begitu masuk ke dalam, tampaklah beberapa ornamen suku Maya menghiasi seluruh bagian rumah. Tidak ada kursi, hanya lempengan perak yang dianyam menjadi tikar sebagai alas tempat duduk. Tidak ada ruangan selain kamar mandi. Tempat tidur dengan seprai warna merah berada di tengah ruangan. Tempat tidur itu dikelilingi oleh kelambu tipis, fungsinya untuk mencegah gigitan hiu apabila masuk ke dalam rumah. Beberapa lilin merah menerangi rumah ini, karena memang listrik dari PLN belum tersambung.

“lebih baik kita mandi dulu”, ucap Luna sambil membawa handuk.

“oh silahkan duluan”, jawab saya penuh iman. Luna pun kemudian masuk ke kamar mandi.

“wau wau”, jawab Poleng yang artinya “Tuan, tidak baik menolak ajakan orang”. Saya diam saja, rasanya tidak perlu menjawab ucapan Poleng.

Seusai Luna mandi kini giliran saya dan Poleng mandi bersama, maksudnya saya di kamar mandi, Poleng di tengah laut.

“saya perhatikan dari tadi anda diam saja, maaf jika rumah ini tidak membuat anda nyaman”, kata Luna pada saya, seusai kami mandi dan sedang duduk-duduk di tikar yang terasa dingin.

“jangan salah sangka, saya hanya masih kepikiran masalah kiamat”, kilah saya.

“kenapa dengan kiamat? Anda pasti tidak mempercayainya!”, ungkap Luna.

“ya”, jawab saya jujur.

“sudah saya duga, tetapi itu hal yang wajar…… sayapun sebenarnya ragu”, kata Luna.

“kalau anda ragu, mengapa masih diteruskan?”, tanya saya penasaran sambil mengerut-ngerutkan kening.

“bagi suku Maya, agama dan sains tidak bisa dipisahkan”, ungkap Luna.

“maksudnya?”, tanya saya lagi.

“setiap kepercayaan harus dilandasi dengan bukti sains, saya sudah mempelajari berbagai disiplin ilmu mengenai kemungkinan kiamat 2012….. ternyata tidak ada satupun yang bisa mengarah bahwa peristiwa itu akan terjadi. Mungkin saja di beberapa belahan bumi bisa terjadi bencana alam, tetapi yang kami inginkan pada tanggal 21 Desember itu adalah kehancuran secara total seluruh alam semesta”, beber Luna panjang lebar.

“lalu apa yang melandasi anda tetap bersikukuh bahwa kiamat itu harus terjadi”, tanya saya lagi, dalam topik yang sangat serius ini. Sementara Poleng hanya bengong, pasti ia tidak mengerti.

“saya tidak ingin membuat malu nenek moyang kami yang telah salah buat prediksi, lagipula kami sudah terlanjur menyewa tenda, kursi, piring untuk keperluan acara kiamat nanti, izin keramaian dari kepolisian pun sudah kami kantongi”, jawab Luna dengan tatapan hampa.

“memang pesanannya tidak bisa dibatalkan?”, tanya saya. Kemudian Luna menggeleng pasrah.

“sudah masuk DP 50%”, jawab Luna seperti menahan tangis.

“wau wau” ujar Poleng yang artinya “kondisi yang rumit!”.

“lalu apa yang akan anda lakukan?”, saya bertanya lagi.

“apapun caranya, kiamat itu harus tetap terjadi! Saya sudah bekerjasama dengan seorang Milyuner dari Rusia”, jawab Luna.

“Wau wau” kata Poleng sambil berbisik yang artinya “Rusia, Tuan!”.

Saya baru sadar, rupanya Tuhan telah membimbing kami ke jalan yang benar.

“siapa dia dan apa bentuk kerjasamanya?”, kata saya mulai bersemangat.

“ia bernama Santanakovic, pengusaha Batik Rusia yang terkenal. Sawahnya luas, kolam ikan-nya banyak. Tapi dia sangat dibenci dan dianggap sebagai sampah masyarakat oleh rakyat Rusia, karena tabiatnya yang tidak pernah mau ikut kerja bakti….. “, jawab Luna sambil meminum secangkir cokelat panas.

“wau wau” kata Poleng yang artinya “sungguh orang kaya yang congkak dan bolehkah saya meminta cokelat panas anda?”.

“akhirnya saya mencoba memanfaatkan situasi itu, dia kami rayu agar mau membuat stasiun nuklir di Malvinas, maksudnya agar dia bisa melenyapkan peradaban seluruh manusia yang sudah mengucilkannya, tentunya dengan senjata nuklir”, sambung Luna sambil menyerahkan cangkirnya pada Poleng. Poleng pun menatap sambil tersenyum ke arah saya, seolah-olah bangga dengan keberhasilannya merebut hati Luna.

“Mengapa harus Malvinas?”, tanya saya sambil pura-pura cuek tidak melihat Poleng yang sedang menari balet.

“Malvinas ini pengawasannya sangat lemah, terlalu jauh bagi kerajaan Inggris untuk mengontrol langsung ke wilayah ini, apalagi dengan berjalan kaki. Alasan kedua adalah karena jarak Malvinas ke Amerika cukup dekat, sehingga dapat dijangkau oleh roket-roket nuklir apabila nanti terjadi perang”, jawab Luna.

“Amerika? Kenapa dilibatkan juga?”, tanya saya dengan seribu tanda tanya yang menggantung di langit-langit rumah.

“biasa lah, negara itu pasti selalu ingin eksis. Tapi justru itu harapan kami, ketika mereka bertindak, justru perang nuklir akan segera terwujud”, begitulah penjelasan dari Luna. Penjelasan yang membuat saya termangu, bukan hanya karena nuklir, tetapi juga karena cokelat panas yang Luna beri untuk Poleng.

“sebentar! Ada yang tidak saya mengerti. Mengapa orang Rusia itu cape-cape membuat nuklir. Gila! Dengan perang nuklir ini, tentu membuat dia sendiri akan binasa!”, jawab saya sambil berjalan mondar-mandir seperti aktor watak Bollywood. Poleng pun mengikuti, tidak mau kalah.

“dia sudah membentuk koloni di Bulan, begitu perang dimulai, dia sudah pergi ke Bulan”, jawab Luna santai.

“kalau begitu, mengapa tidak pergi dari sekarang saja, hidup santai di Bulan, tanpa perlu membinasakan manusia!”, kata saya yang tidak habis pikir dengan maksud orang Rusia itu.

“namanya juga sudah sakit hati, tujuan utamanya kan ingin membalas perlakuan kasar manusia kepadanya”, jawab Luna.

“kapan rencana ini akan dilaksanakan?”, tanya saya.

“paling lambat pertengahan tahun 2012, senjata-senjata nuklir itu sudah mulai difungsikan”, jawab Luna.

“wau wau”, kata Poleng yang artinya “alhamdulillah, masih lama”.

“ya sekitar 2 tahun lagi, tapi rencana terdekatnya adalah kami akan meluncurkan produk baso Malvinas, itu akan kami distribusikan ke seluruh dunia mulai lusa”, ujar Luna.

“wau wau”, kata Poleng lagi, yang maksudnya “wah… baso!”.

“apa hubungan baso dengan kiamat?”, kata saya tak mengerti.

“ini hanya sekedar pengisi waktu luang saja, daripada nganggur. Namun yang pasti, baso itu adonannya telah kami campur dengan bubuk nuklir, sehingga saat baso itu digigit rasa dagingnya tidak akan terasa, tetapi justru akan membuat semacam ledakan di dalam usus. Tentunya itu tidak baik untuk kesehatan….. sedikit-sedikit lah, kita kikis peradaban manusia”, jawab Luna menjelaskan dengan santai.

“ok, kembali ke perang nulir! Menurut saya itu hanya akan menghancurkan bumi, tapi tidak untuk alam semesta, tadi anda bilang ingin kehancuran total alam semesta, bagaimana ini?”, saya bertanya lagi mengenai rencana gila Luna dan Santanakovic.

“yang saya ceritakan baru dari satu aspek saja, ada bagian supranatural yang akan saya ceritakan besok, itu bisa membuat alam semesta benar-benar hancur! sekarang lebih baik kita tidur dulu”, jawab Luna sambil tersenyum.

“wau wau”, kata Poleng yang artinya “ini yang saya tunggu”.

Luna kemudian berjalan ke arah tempat tidur, “ayo semua tidur disini”, ajak Luna. Poleng langsung mengikutinya, sedangkan saya masih pusing akibat cerita nuklir. Anehnya Luna hanya berdiri di atas tempat tidur, sementara Poleng langsung berbaring, tapi Luna langsung menyuruhnya berdiri.

“sekarang kalian sudah menjadi bagian dari suku Maya, maka dari itu kalian harus mengikuti kebiasaan tidur Suku Maya”, kata Luna sambil menyelimuti seluruh tubuhnya dengan jubah tebal berwarna hitam, masih dengan posisi berdiri di atas tempat tidur, Luna mengikatkan kedua tangannya pada pengait besi yang menggantung di atas tempat tidurnya.

“ayo, semua ikuti seperti cara saya, pakai jubahnya, kaitkan tangan kalian pada pengait yang berbeda”, kata Luna dari balik jubah, kini yang tampak dari Luna hanya matanya saja. Setelah susah payah selama 30 menit, akhirnya kami berhasil mengikuti anjuran tata cara tidur suku Maya. Beberapa saat kemudian terdengar suara dengkuran dari arah kiri saya, itu posisi Luna tidur berdiri, sementara dari arah kanan, yaitu tempat Poleng tidur berdiri tidak terdengar suara apapun.

“Pol… Poleng…… udah tidur?”, tanya saya sambil berbisik.

“wau wau” jawab Poleng yang artinya “boro-boro Tuan, ga bisa nafas….”.